Jumat, 04 April 2014

Evaluasi Pembelajaran Membaca

Assalamu'alaikum Blogger dimana pun anda berada. bagaimana kabarnya, sehat ? Saya harap seperti itu ^_^ Alhamdulillah kali ini saya bisa kembali untuk sedikit menuangkan inspirasi saya berkaitan dengan tugas mata kuliah saya (artikel) tentang Evaluasi pembelajaran membaca. Yaah, dari pada tugas saya kali ini hanya sekedar di lihat dan di nilai oleh dosen saya, mending saya share disini mudah-mudahan saja lebih memiliki manfaat yang lebih.
Sebelum saya berbagi, mungkin yang harus di perhatikan adalah bahwa artikel saya tentunya masih sederhana dan masih sangat membutuhkan pesan, saran serta kritik dari teman-teman yang lebih berpengalaman heheee.. Oke kalo begitu ini dia artikel saya mudah-mudahan bermanfaat ^_^

EVALUASI PEMBELAJARAN MEMBACA

A.    PENGERTIAN EVALUASI
Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983).
Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai the process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives," Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.
Sedangkan, Rooijackers Ad mendefinisikan evaluasi sebagai "setiap usaha atau proses dalam menentukan nilai". Secara khusus evaluasi atau penilaian juga diartikan sebagai proses pemberian nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.  Evaluasi bukan sekadar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insidental (sewaktu-waktu), melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik (menurut aturan), yang jelas.
Evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:
Ø  Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.
Ø  Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.
Ø  Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasil pengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.
Evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atas permasalahan yang ditemukan
Evaluasi bersifat analitik dan kooperatif dengan obyek evaluasi (evaluatan), sedangkan audit lebih menekankan pada pengujian-pengujian bukti dan independen terhadap obyek audit (auditan). Keduanya tetap mengedepankan obyektivitas evaluator/auditor.
Tidak ada satupun guru yang tidak ingin berhasil dalam proses mengajar, tentunya semua guru sangat mengharapkan sekali keberhasilan belajar mengajar itu, guru yang masa bodoh terhadap anak didiknya adalah cermin kurang tanggung jawabnya seorang guru menjabat sebagai profesinya, guru yang tidak mau tahu dengan perkembangan pendidikan anak didiknya adalah tanda guru yang tidak peduli taerhadap tantangan zaman yang terus merongrong anak didiknya.
Walaupun ada terobosan baru metode belajar yang bagus, seperti yang di pelopori oleh bobby de porter dalam quantum learningnya, tetapi itu saja tidak cukup, metode yang bagus saja tidak cukup tanpa evaluasi, maka evaluasi sangat  di butuhkan sekali dalam pendidikan.
 Dalam sebuah buku yang berjudul teknik evaluasi pendidikan karya M.chabib thoha, beliau mengatakan bahwa Evaluasi berasal dari kata evaluation yang berarti suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu, apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan.
Evaluasi atau penilaian dalam bidang pengajaran dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Tuckman (1975:12) mengartikan penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui/menguji apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau criteria yang telah ditentukan. Pengertian evaluasi berkaitan erat dengan pengertian pengukuran (measurement).
Orang sering mencampuradukkan kedua pengertian ini. Untuk dapat memberikan penilaian secara tepat, misalnya tentang kemampuan pembaca memahami teks argumentasi, pengajar memerlukan data-data tentang kemampuan pembaca dalam hal itu. Untuk mendapatkan data tersebut, misalnya skor, pengajar memerlukan kegiatan yang disebut pengukuran. Jadi, pengukuran itu merupakan proses mengukur yang berfungsi sebagai alat evaluasi. Ia berhubungan dengan data-data kuantitatif saja misalnya berupa skor-skor pembaca. Dari kegiatan pengukuran ini proses evaluasi dimulai. Data kuantitatif yang didapat dari pengukuran diubah menjadi pernyataan kualitatif yang berupa penilaian. Misalnya, skor 40, 60, 80 dari hasil pengukuran dapat dinilai sebagai kurang mampu, cukup mampu, dan sangat mampu
B.     TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guru akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian pembaca atau peserta didik.
Evaluasi pendidikan memberikan manfaat baik bagi pembaca/peserta pendidikan, pengajar maupun manajemen. Dengan adanya evaluasi, peserta didik dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan yang telah digapai selama mengikuti pendidikan. Pada kondisi dimana pembaca mendapatkan nilai yang mernuaskan maka akan memberikan dampak berupa suatu stimulus, motivator agar pembaca dapat lebih meningkatkan prestasi.
Pada kondisi dimana hasil yang dicapai tidlak mernuaskan maka pembaca akan berusaha memperbaiki kegiatan belajar, namun demikian sangat diperlukan pemberian stimulus positif dari guru/pengajar agar pembaca tidak putus asa. Dari sisi pendidik, hasil evaluasi dapat digunakan sebagai umpan balik untuk menetapkan upaya upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Ada beberapa tujuan dan atau fungsi penilaian dalam pengajaran di sekolah, yaitu:
1.      Untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan telah tercapai dalam kegiatan pembelajaran.
2.      Untuk memberikan objektivitas pengamatan kita terhadap perilaku hasil belajar pembaca.
3.      Untuk mengetahu kemampuan pembaca dalam bidang/topik tertentu.
4.      Untuk menentukan kelayakan pembaca, misalnya naik kelas, lulus.
5.      Untuk memberikan umpan balik bagi kegiatan pembelajaranyang dilakukan.
Evaluasi memiliki beberapa fungsi yaitu: 
1.      Fungsi normatif, yaitu berfungsi untuk perbaikan sistem pembelajaran
2.      Fungsi diagnostik, yaitu untuk mengetahui faktor kesulitan pembaca dala proses   pembelajaran
3.      Fungsi sumatif, yaitu berfungsi untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik.
4.      Fungsi penempatan
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.
Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui kemajuan belajar pembaca setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2.      Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui kedudukan pembaca dalam kelompoknya.
4.       Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan pembaca dalam rangka perbaikan.
Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik, guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:
1.      Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.
2.      Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.
3.      Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.
C.   PENGERTIAN DAN TUJUAN MEMBACA
Hakikat membaca merupakan suatu kegiatan yang bersifat reseptif,dalam proses membaca si pembaca akan mendapat ide-ide dan informasi yang dituangkan oleh penulis dalam tulisannya tersebut. Setiap orang mempunyai kemampuan membaca yang berbeda-beda, tergantung faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Begitu pula minat baca yang berbeda-beda. Menurut Tarigan, Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui kata-kata atau bahasa tulis.
Tujuan membaca menurut Tarigan adalah :
1. Untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta
2. Untuk memperoleh ide-ide utama
3. Untuk mengetahui urutan dan susunan bacaan
4. Untuk menyimpulkan
5. Untuk mengelompokkan atau mengklasifikasi
6. Untuk menilai atau mengevaluasi
7. Untuk membandingkan atau mempertentangkan
D. HAKIKAT EVALUASI PEMBELAJARAN MEMBACA
Evaluasi pembelajaran membaca adalah suatu kegiatan untuk memperoleh informasi tentang hasil pembelajaran membaca, kemudian mengolah dan menafsirkannya dengan tolok ukur tertentu.
Jenis Alat Evaluasi Keterampilan Membaca
Tes atau evaluasi yang baik tentu saja harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu:
1.            Reliable (terpercaya). Sebuah evaluasi dapat dikatakan terpercaya atau reliabel jika hasil yang diperoleh pada ujian itu tetap atau stabil, kapan saja, di mana saja, dan siapa pun yang mengujkan dan yang menilainya.
2.            Validity ( kesahihan). Sebuah ujian dapat dikatakan valid apabila penyusunan ujian didasarkan pada analisis yang diteliti tentang kemampuan berbahasa yang hendak diukur dan jika ada bukti-bukti hasil penilaian berkolerasi yang tinggi dengan kemampuan pengikut ujian berbahasa.
3.            Practicallity(kepraktisan). Kepraktisan adalah soal dapat digunakan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada, meliputi hemat/ekonomis, mudah melaksanakan dan memeriksanya, dan mudah cara menafsirkan hasil. (Hidayat, 1994: 9)
Alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca dapat digolongkan menjadi dua bagian. Pertama, tes membaca permulaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan pembaca dalam mengenali dan menyuarakan lambang-lambang bunyi dengan intonasi yang benar dalam kalimat. Tes ini bersifat individual dan ditekankan pada kemampuan teknis membaca seperti, lafal, frasing, kelancaran, perhatian terhadap tanda baca, dan intonansi. Untuk dapat menilai digunakan teknik nontes misalnya lembar observasi. Alat evaluasi yang kedua, disebut dengan tes membaca lanjut atau tes memahami bacaan.
Ada dua jenis yang dapat digunakan dalam pengukuran kemampuan membaca :
a. Tes pemahaman kalimat
Tes pemahaman kalimat digunakan untuk pembaca yang belum dapat membaca secara lancar. Ada dua teknik yang dapat dalam tes pemahaman kalimat yaitu dengan memberikan gambar atau menyajikan kata. Frase dan pilihan jawaban. Dalam tes ini biasanya diukur kemampuan pembaca dalam menguasai kosa kata dan tata bahasa.
b. Tes Pemahaman
Tes pemahaman wacana merupakan tes kemampuan membaca yang intergratif atau terpadu. Dalam tes ini banyak kemampuan yang bisa diukur seperti, struktur, kosa kata, pemahaman isi bacaan, gagasan, gaya penulisan bacaan, paragraf. Tes ini dapat diberikan kepada pembaca tingkat keterbacaan yang wacana yang diinginkan tingkat kesulitan soal. Tingkat keterbacaan yang rendah dapat diberikan pada pembaca pemula.
Ada dua bentuk tes pemahaman wacana :
1. Tes pilihan ganda biasa
Tes pilihan ganda harus diperhatikan panjangnya wacana yang digunakan biasanya 35-75 kata untuk wacana pendek dan 100 sampai 300 kata untuk wacana panjang. Butir pertanyaan yang dibuat dapat berkaitan dengan topic wacana, jenis wacana, judul wacana, informasi wacana, topic paragraf, kalimat topic, jenis paragraf, kosa kata, dan struktur.
2.         Tes rumpang
Adalah tes yang didalamnya terdapat kata-kata yang dirumpangkan. Pembaca dapat mengisi bagian yang dihilangkan itu jika memahami seluruh wacana. Penghilangan kata dapat diatur dengan jarak yang sama atau tidak tetap mengatur jarak kata yang dirumpangkan.


Nah itu dia posting kali ini dari saya, mohon maaf bila ada kesalahan.
Wassalam...

2 komentar:

  1. kak, saya mau tanya sumber reserensinya menggunakan buku apa yah, mohon dijawab saya ada tugas mencari buku yang isinya ada tentang ealuasi pembelajaran membaca
    terimakasih mohon bantuannya

    BalasHapus
  2. daftar pustakanya dari mana ya? mohon dijawab

    BalasHapus